Ada apa dengan Fira
Nia dan Fira sudah berteman lama. Persahabatan mereka dinamakan BFF. Tapi, semenjak sheryll ada dikelasnya, ia seperti bermusuhan. Nia seperti tersendiri. Sekarang, tiap hari Fira kekantin bersama Sherryl. Saat Nia sedang dikantin memakan bakso, tiba-tiba Fira lari menghampirinya.”Ni, nanti kita pulang sama-sama ya? hari ini Sheryll tidak masuk.”kata Fira. “iya”kata Nia sambil berkata dalam hatinya, oh ternyata ia mau pulang bersamaku hanya karena Sheryll tidak masuk.
Saat waktu bel pulang ‘kriiiiing kriiiing’ suara bell berbunyi tanda pulang. “Nia, tolong pegangin ini donk aku kebelet buang air kecil”kata Fira. “iya Fira” kata Nia. tiba-tiba buku curhatnya Fira terjatuh ‘brakkk’ Nia langsung mengambil buku itu perlahan disitu ada tulisan
23 January 2010
sahabat apa macam dia ? gara gara dia aku jadi ketahuan. padahal dia juga contek ke aku. Ibu jadi dipanggil kepala sekolah. Dan pulang seklah aku dimarahi ibu.
memang waktu itu ada ulangan kimia, tapi karena Nia dan Fira lupa belajar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyontek ke buku Fira karena waktu itu Nia lupa membawa buku catatannya. lalu ada lagi.
25 January 2010
aaa.. ulangan bahasa inggrisku jelek sekali. aku hanya mendapat nilai 3 saja, tapi sahabatku mendapat seratus tapi tidak mengajari aku caranya. dia hanya memperdulikan kelompok English language debate.
memang dia terlalu sibuk dengan kelompoknya. tiba-tiba didepan sudah ada Fira dengan muka heran. “ee..enggak tadi terjatuh” kata Nia cepat cepat.
Add a comment Oktober 29, 2011
ibu dan ayah
ibu….
engkau pencerah hatiku…
engkau selalu menenangkan hatiku…
ibu…
teruslah bersamaku..
saat nanti engkau pergi tuk selama lamanya…
ku kandoakan mu selalu..
seperti engkau yang selalu menemaniku …
ayah….
engkau mencari nafkah…
menggantungkan jiwa ragamu..
untuk pertanggung jawaban atas hakmu…
ayah..
engkau kepala keluarga yang setia..
yang bisa menenangkan hati ibu…
ayah..
engkau orang yang paling bertanggung jawab dalam hidupku ..
SELAMANYA !
Add a comment Oktober 28, 2011
Kaitkata: kasih sayang orang tua., puisi
Rina yang sabar
suatu hari. Rina biasa, masuk kelasnya ia selalu diejek teman temannya. Karena dirinya termasuk orang yang tidak berkecukupan, semenjak ayahnya meninggal dalam kecelakaan. Tapi dirinya tetap sabar. Teman temannya heran, kenapa Rina tetap sabar? ia hanya menjawab tenang. “Aku tidak mau mengecewakan ayahku dialam lain sana “. Akhirnya, ada anak baru dikelasnya. Ia berbeda dengan Rina, dia termasuk orang yang sangat berkecukupan.Tetapi, ia baik. Namanya Shinta.
ia sahabat baiknya Rina. Rina senang sekali dengan adanya Shinta dikelasnya. Sekarang, ia tampak bahagia. Rina pernah diajak ke rumah Shinta. Rumahnya besar sekali. Ayah dan ibu Shinta juga baik. Dikeluarganya, Shinta anak tunggal. Ia mempunya 2 pembantu yang setia menemaninya. Ayah dan ibunya sangat sayang kepada Shinta. Tapi Shinta mengeluh, katanya ‘ enakan jadi orang miskin tapi cukup kasih sayangnya, dari pada jadi orang kaya tapi kurang kasih sayang’.
“Rina kamu yang sabar ya, sebentar lagi ibumu juga pulang” hibur Shinta suatu hari.. “Terima kasih sudah menghiburku Shinta” kata Rina sambil menekuk muka biasanya jam 2 siang ibunya sudah pulang. Tapi, kali ini sampai jam 4 sore ibunya belum juga pulang. Tiba tiba pak rt berlari menuju rumah Rina, dengan terengah engah dan buru buru. “Ada apa pak rt sepertinya heboh banget”tanya Rina. Kata Rina sambil dadanya yang berdegup kencang dagh digh dugh
“anuuu.. anu.. Rin, ibumu tertabrak mobil tadi jam setengah dua siang.”belum selesai pak rt menjawab tetapi Rina sudah ber teriak “apa !” jawabnya histeris. “dan kakak mu Almarhumah”. mendengar ucapan pak rt, Rina pingsan. Pak rt buru buru memasukkan Rina kekamar. 15 menit kemudian ia siuman. Tiba-tiba dirumah sakit sudah ada ambulance yang siap mengantar 2 jenazah kerumah Rina. Rina tambah menjdai histeris.
sejak itu ia mau dimasukkan ke panti asuhan. tetapi, ayah dan ibu Shinta mengangkat Rina menjadi anak angkatanya. sekarang namanya berubah menjadi ‘ Shanti Randiana’. mereka sudah dianggap kembar. sekarang, Rina sudah merasakan kekayaannya yang lama hilang.Dan keluarganya pun menjadi tentetam dan bahagia sampai akhir khayatnya.
Add a comment Oktober 27, 2011
pengertian sampah
Meningkatnya jumlah penduduk, akan meningkatkan volume sampah. Semakin lama jumlah sampah semakin menumpuk. Apalagi, daerah pembuangan sampah semakin sedikit. Hal ini akan menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup, karena penambahan volume sampah tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik.
Jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.
Warga Indonesia memilah sampah organik dan anorganik di rumahnya masing-masing. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dibuang ke tempat pembuangan sampah yang telah disediakan.
Petugas sampah memilah sampah anorganik. Plastic plastik dipisahkan dan dijual ke tempat pengolahan plastic. Dengan demikian semua sampah di Indonesia dapat diolah menjadi material berguna. Sampah organik diolah menjadi pupuk,sedangkan sampah anorganik di daur ulang
4 cara manjur untuk mengurangi dampak buruk sampah:
- membuang sampah pada tempatnya,
- dimanfaatkan menjadi material berguna,
- memilah sampah organik dan anorganik dirumahnya masing masing,
- dimanfaatkan menjadi pupuk kompos dsb.
maka Indonesia juga harus jadi negara yang maju, bersih, tenteram.
Add a comment Oktober 27, 2011
Desaku yang indah
desaku..
engkau bagaikan permata bumi..
gunung, sawah, dan sebagainya menjadi keutamaan mu..
oh, desaku engkau tanah tumpah darahku…
desaku..
sekarang kau berubah menjadi gedung pencakar langit…
padang rumput yang luas, sawah dan sebagainya sudah tak ada lagi…
mereka yang merusaknya, hanya memikirkan dirinya sendiri..
tidak memikirkan alam sekitarnya…
terjagalah selalu dirimu desaku…
Add a comment Oktober 27, 2011
Kaitkata: desaku, keindahan desaku, puisi
Nenekku
Pulang sekolah, aku dipanggil mama. “Ra, kamu siapkan baju. Sore ini kita akan berangkat ke rumah nenek”. Tentu saja aku bingung.“memang nenek kenapa ma ?” tanyaku. “Tadi siang saat kamu sekolah, Bibi Shanti menelepon mama. Katanya, kita harus cepat kebandung, kalau bisa sore ini juga” jawab mama.
“nenek sakit apa?” tanyaku lagi. “Bibi Shanti, tidak memberi tahu mama. Sudahlah, cepat siapkan baju. Kita akan menginap disana kira kira satu minggu” jawab mama sambil memasukkan baju untuk ke rumah nenek. “baiklah ma ..”jawabku lagi. Aku segera kekamar merapikan baju.
Setelah selesai merapikan bajuku, aku merapikan alat mandiku. Semua telah selesai, aku segera mandi. Sore telah tiba. Aku memasukkan semua yang telah aku siapkan ke dalam bagasi mobil. “Ra, tolong masukkan tas kakak yang hitam” kata kak Auryn kakakku. “ya kak” jawabku.
Perjalanan sangatlah jauh.Setelah beberapa jam kemudian, sampai di rumah nenek. Lama sekali aku tak bertemu nenek aku dan kakak berteriak teriak “nenek.. neneeekk. Ini Ra dan Ryn nek” tak ada suara nenek. Bibi Shanti terlihat sedih. “Bi, Bibi kenapa?” tanyaku. Bibi terdiam.
“Nenek sakit stroke Ra” jawab bibi pelan.”Apa” aku kaget. Karena mama tak memberitahuku,aku mengunci diri di kamar. Mama merayuku untuk keluar. ”mama jahat! tak memberitahu Rara, kalau nenek sakit stroke” jawabku. “mama benar tak tahu kalau Nenek sakit Ra, ingat mama sayang kamu.” Kata mama sambil menangis.
Akhirnya aku keluar, karena mama juga tak tau kalau nenek sakit. Aku lihat mama sedang terbaring di kasur, kata kakak mama shock dan pingsan setelah mendengar aku berbicara bahwa nenek sakit. “maafkan aku ya ma…” kataku. “iya sayang, tidak apa apa” jawab mama sambil mengusap kepalaku.
Akhirnya aku bertemu keluarga besar. Ada Ryzna yang suka bermain denganku. Ada juga kak fanny, yang suka bermain dengan kak Ryn. Akhirnya aku minta ayah untuk mengantarkan aku, kak Ryn, Ryzna, Ryzky, dan juga Kak Fanny ke rumah sakit menjenguk nenek.
“Papa, antarkan Rara donk, kerumah sakit.” Kataku. “iya Ra, sabar. Papa sedang repot nih” kata papa. Tak lama kemudian aku diantarkan kerumah sakit menjenguk nenek. Mama juga sedang repot jadi aku dan beberapa kakak dan adik sepupuku saja. Aku bersama saudara perempuan/ laki-lakiku mutar mutar tapi tidak ketemu.
Akhirnya aku menanyakan kepada suster. “maaf, sus selamat pagi. Apakah suster bisa tunjukkan di mana ruang inap ibu Syarifa Rahma. Yang mengalami penyakit stroke.”. “oh, bisa adik” jawab suster. Lalu aku dan semua saudaraku diantarkan ke kamar nenek. Jalanya agak berbelit-belit. ”disini dik” kata suster.
“terima kasih,” kataku. Aku segera masuk dan menemui nenek. “nek ini Ryn, nenek kenapa kok bisa sakit” kata kak Ryn. “ Tidak tahu, ya, memang nenek sudah tua! mau diapakan lagi? Cu kamu kerumah sakit sama siapa?” Tanya nenek.” Tadi diantarkan ayah. tapi, ayah repot jadi kita kekamar nenek, diantarkan suster” jawabku.
Tak lama kemudian, Ryzna dan Rizky dijemput ayahnya, katanya mereka disuruh pulang. Setelah setengah jam kemudian, Farin adik kak Fanny datang. Katanya, ayah dan ibu kak Fanny ada di rumah nenek.
Aku menemani nenek sampai malam. Aku pun telah menelepon mama dan aku sudah dapat izin. aku menginap di rumah sakit. Aku bertekad sebelum nenek tidur, Aku takkan tidur.aku banyak berbicara bersama nenek hingga aku tak ingat waktu malam telah tiba.
Saat tengah enak berbicara dengan nenek. Tiba-tiba ayah datang.ayah membawakan ku kasur lipat. “Ra, kok belum tidur”ujar ayah. “iya, belum ngantuk.” Kataku. “cepatlah tidur, Ryn dan Fanny jaga adikmu dan juga jaga nenek ya!”kata ayah. “Insyaallah ayah, Ryn dan Fanny akan menuruti nasihat ayah.”
Aku melanjutkan bicara kepada nenek. “Rania, Auryn, Fanny, Farin, Ryzna, Ryzky. jadilah anak yang baik. Jika nanti nenek pergi meninggalkan kalian semua selama-lamanya. Doakan nenek supaya tetap disisi Allah ya. supaya diatas sana kita bisa bertemu lagi” kata nenek “uuussstt.. nenek tidak boleh berkata begitu” kataku. “ya nanti kalau ajal sudah mendatangi nenek?” kata nenek.
“Nenek gak boleh tinggalin Ra nek.” Kataku. “semua akan berbalik kepada yang menciptakan” kata nenek. “berarti nanti Rania juga akan meninggal ya nek” tanyaku. “iya, sayang..” jawab nenek. Lalu aku dan nenek segera tidur. Aku senang sekali hari ini.
pagi-pagi sekali. Aku dibangunkan kak Fanny. “Rania, Auryn bangun! ” kata kak Fanny. “huuu… ini masih pagi kali Fan!” jawab kakakku. “yaa, bangun pagi setidaknya dirumah sakit ini kita harus lebih disiplin. Nanti kalau nenek bangun atau minta diambilkan apa bagaimana?” jawab kak Fanny lagi. “iya” kata kakak. aku pun bangun. pagi ini kami memasak sendiri.
“duuhh.., Farin ngompol nih untung aja pake popok.” kata Kak Ryn. hari itu hari yang tak terlupakan. Setelah peristiwa itu aku dan kakakku juga lebih disiplin. Malam ini aku menginap dirumah nenek kata nenek, nenek tak apa di ruang inap sendiri.
malam ini aku susah tidur karna aku terus memikirkan nenek. Kata mama, cepatlah tidur. besok pagi jika kamu rajin akan langsung ke rumah sakit setelah mandi dan makan. Aku bangun, ada telepon berdering. aku segera mengangkat. ternyata dari rumah sakit. akatanya nenek sudah almarhumah. aku menjadi histeris.” neneeeeeeeeeeeeeekk. nenek kenapa tinggalin Rania”. mama menjadi kaget dan segera menyampiri aku.
bahkan mama sampai pingsan. Siang itu juga nenek dikubur. Aku menangis saat nenek dikubur. ternyata, aku jadi tau bahwa semua orang akan menemui ajal. ajalnya pun tak ada yang tau. hanya allahlah yang tau
ʂƐƪƏʂÄÏ
2 komentar Oktober 9, 2011
Kaitkata: cerpen., karangan
SULAP
Di sekolah Chintia bercerita pada teman-temanya tentang ayahnya yang pandai menyulap. Saking pintarnya menyusun cerita, teman sekolahnya sampai mengangumi ayah Chintia. Mereka ingin memiliki ayah yang pandai menyulap apapun yang diinginkan anaknya.
“Nih, coklat dari ayah Chintia. Disulapin nih,” ujar Chintia pada Gandes, teman sekelasnya. “Makanya, punya ayah seperti aku dong,” lanjut Chintia bangga. Gandes, yang kebetulan diantar ke sekolah oleh mamanya, langsung merengek untuk disulapkan coklat dan es krim.
“Ma, sulapin es krim dan coklat dong,” kata Gandes.
“Mama enggak bisa sayang. Nanti pulang sekolah mama beliin di toko dekat rumah,” kata sang ibu.
“Nggak mau. Gandes maunya disulapin kayak Chintia.” Sambil berkata demikian, meledaklah tangis Gandes.
Bukan hanya Gandes yang mengharapkan memiliki ayah atau ibu yang pandai menyulap. Rama, Tabitha, Riko, Lia, Anisa dan teman-teman yang lain juga punya harapan yang sama. Siapa yang enggak senang punya ayah yang bisa memberikan apa yang menjadi keingchintian kita?
Tiap hari Chintia terus membanggakan kepandaian ayahnya menyulap. Cerita Chintia kadang membuat teman-temannya jengkel dan iri. Namun mereka tidak bisa bebuat apa-apa. Mereka hanya menjadi pendengar, yang ujung-ujungnya menambah decak kagum mereka pada ayah Chintia.
Musim libur tiba. Semua siswa mempunyai acara liburan sendiri-sendiri. “Aku mau pulang kampng sama ayah,” kata Chintia pada Tabitha. “Kalau aku sih hanya ke Ancol. Habisnya aku enggak punya kampung,” ujar Tabitha dengan nada kecewa.
Malam hari menjelang keberangkatan ke Solo, Chintia tidak bisa tidur. Ia sudah menyusun daftar makanan yang akan dia minta pada ayah. Ada wafer, coklat, susu, dan bermacam-macam roti. “Nanti biar disulapin ayah,” ujarnya dalam hati.
Chintia girang ketika tiba-tiba ibu membangunkan tidurnya, lalu menyuruhnya untuk mandi. Mereka akan berangkat ke Solo. Chintia duduk di bangku belakang, bareng dengan ibu dan Dirga, kakaknya. “Cepet dong nyetirnya biar cepet sampai eyang,” kata Chintia pada Pak Maman, sopirnya.
Baru dua jam perjalanan, Chintia sudah tak betah duduk di mobil. Dia mulai mencari tas kesayangannya. Mengambil susu dan meminumnya hingga habis. “Wah makan coklat enak nih,” katanya sambil membuka tas lagi.
Namun wajah Chintia murung. Dia tak menemukan coklat kegemarannya. Yang ada di dalam tas hanya donat, wafer dan permen. “Ibu lupa membawanya, sayang,” ujar ibu. “Makan yang lain aja. Ada permen tuh,” sela Dirga. Chintia bergeming. Wajahnya tetap muram. Yang diinginkan hanya coklat.
“Aku punya ide,” teriak Chintia. Wajahnya ceria. Senyumnya meledak. “Bagaimana kalau ayah saja yang menyulap coklat,” katanya mantap. Chintia yakin ayah bisa memenuhui permintaan itu karena di rumah ayah bisa menyulap permen, wafer dan coklat.
Ibu dan Dirga saling berpandangan, lalu ibu tersenyum getir. “Nanti saja sayang makan coklatnya. Nanti ibu beliin,” bujuk ibu. Ibu tahu ayah tidak bisa memberikan coklat yang diinginkan Chintia karena mereka tidak memiliki colkat sebagai bahan untuk menyulap.
“Enggak mau. Ayah sulapin coklat sekarang!” Chintia terus merengek dan memegangi lengan ayahnya yang duduk di samping sopir. “Sayang, di jalan enggak boleh menyulap. Berbahaya,” kata ayah. “Kan yang nyetir Pak Maman,’ sergah Chintia.
Ayah mulai kebingungan. Alasan yang tidak masuk akan pasti akan ditolak oleh Chintia karena gadis kecil itu cerdas. Ibu pun kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada Chintia bahwa sulap yang dipraktekkan ayah di rumah hanyalah permachintian kecepatan saja. Semua makanan yang akan disulap dan diberikan kepada Chintia sudah tersedia. Tinggal bagaimana ayah mengambil coklat dari kantong baju dan menyulapnya.
Di tengah keheningan, Dirga berkata, “Ayah tuh kalau menyulap bohongan. Coklatnya sudah dipegang di tangan, terus dikasih ke kamu. Sekarang enggak punya coklat. Jadi enggak bisa nyulap.”
Chintia terdiam. Gadis periang itu menunduk. Lesu. Keterangan kakaknya bagai petir di siang bolong. “Enggak mungkin ayah bohong. Ayah bisa menyulap,” sergah Chintia seakan tak percaya dengan penjelasan kakak semata wayangnya. “Ayah tidak berbohong kan?” kata Chintia sambil memegang lengan ayahnya.
Ayah diam. Matanya menatap deretan mobil yang ada di depannya. Lidahnya terasa kaku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tak tega melihat keceriaan gadis kecilnya berubah menjadi sebuah kemurungan. Otaknya berpikir keras untuk menemukan kata yang tepat, yang bisa menjelaskan namun tidak menyakitkan.
“Sayang, semua tukang sulap tidak bisa mengadakan yang tidak ada. Kalau mereka bisa menyulap duit, itu karena mereka sudah punya uangnya. Uang itu disimpan di tempat tersembunyi, lalu diambil dengan cepat saat penonton tidak melihatnya,” kata ibu panjang lebar.
“Jadi ayah juga seperti itu. Tidak bisa menyulap coklat kalau kita tidak punya coklat?” tanya Chintia. Ibu mengangguk pelan. “Pak Maman nanti berhenti di tempat peristirahatan. Ibu mau beli coklat dulu,” kata Ibu pada Pak Maman.
Saat istirahat, ibu membeli coklat kegemaran Chintia. Meski sudah menggenggam coklat, mata Chintia masih berkaca-kaca. Dia malu pada teman-teman sekolahnya yang menganggap ayah Chintia sebagai ahli sulap yang bisa memberikan apapun yang diinginkan.
Add a comment Februari 19, 2011
Kaitkata: cerita anak, cerita pendek, dongeng, fiksi, karangan, sulap
Pantai kuta, Bali.
Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota Bali, Indonesia.
Kuta terletak di Kabupaten Badung. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70-an. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur.
Di Kuta terdapat banyak pertokoan, restoran dan tempat permandian serta menjemur diri. Selain keindahan pantainya, pantai Kuta juga menawarkan berbagai macam jenis hiburan lain misalnya bar dan restoran di sepanjang pantai menuju pantai Legian. Rosovivo, Ocean Beach Club, Kamasutra, adalah beberapa club paling ramai di sepanjang pantai Kuta.
Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup bagus untuk olahraga selancar (surfing), terutama bagi peselancar pemula. Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.
1 komentar Januari 30, 2011
Eksotika Waduk Jatiluhur bersama saudara
Saya berpikir, liburan kemana ya? Saya bertanya pada diri sendiri dalam hati.Naahh… kebetulan saja, ayah saya mendapatkan informasi di Purwakarta, Jawa Barat ada waduk terbesar di Indonesia . Karena saya tidak percaya, saya melihat di Google, ternyata benar Waduk Jatiluhur itu indah.
Saya terkagum melihat keindahan Waduk Jatilihur di Purwakarta, Jawa Barat. Setelah saya mau, saya pun mencoba mencari hotel yang dekat dengan Waduknya. Sebelum saya menempuh perjalanan, saya makan terlebih dahulu di Soto Kudus. Setelah itu saya ngantuk dan lama kelamaan saya pun tertidur.
Saya terbangun dari tidur saya dan menanyakan kepada ayah saya, “Pa.., sampai mana ?”.
Ayahku menjawab, “Sampai tol Bandung.”
Mendengar jawaban ayah saya, saya kembali tertidur. Saya terbangun di jalan tol. Saat saya lapar, ada restauran beraneka macam pula makanannya. Setelah itu saya beli A&W. Setelah kenyang, saya langsung bercanda sambil melihat pemandangan yang indah. Tak terasa sudah sampai. Saya pun mencari villa atau hotel. Setelah mencari mutar mutar, akhirny saya dapat juga. Setelah itu saya melihat pemandanan yang indah, lalu ke pintu masuk menunggu saudara saya. Setelah mereka datang, saya kembali ke tempat hotel.
Keesokan harinya saya jalan-jalan di sekitar hotel setelah sampai jauh. Saya pun berhenti dan naik mobil. Sampa di hotel saya dan keluarga sarapan. Selesai sarapan saya melihat waduk dan foto foto. Lalu saya naik kapal, walau takut saya memberanikan diri. Saya tidak berani naik kapal kecil sehingga naik kapal besar yang sering disebut penduduk sebagai kapal pesiar.
Add a comment Desember 28, 2010
Kaitkata: kapal, liburan, purwakarta, waduk, waduk jatilihur
UJUNG GENTENG: A HIDDEN PARADISE ON THE SOUTH COAST
Minggu, 4 Juli 2010
Untuk menghindari macet di daerah Bogor (karena masih liburan sekolah), saya berangkat pagi hari, sekitar jam 06.00 WIB dari Depok. Melewati tol Bogor, jalanan masih lancar. Terjadi sedikit kemacetan di pasar Cicurug. Setelah itu lalu lintas cukup padat tetapi masih lancar. Di Cibadak kembali terkena macet walau tak separah kalau di siang hari.Sampai Cibadak, saya memutuskan untuk lurus, melewati rute kedua (Jakarta – Ciawi – Cicurug – Cibadak – Sukabumi – Jampang Tengah – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng). Menurut informasi yang saya dapatkan dari internet, rute ini hanya memerlukan waktu sekitar 7 jam, sedangkan rute pertama (Jakarta – Ciawi – Cicurug – Cibadak – Pelabuhan Ratu – Cikembar – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng) menyita waktu 8,5 jam.
Ingin hemat waktu, namun kenyataannya jalur Sukabumi ini malah lebih lama karena saat itu sedang terjadi pengaspalan jalan di daerah Jampang Tengah. Jalan berlubang dan tumpukan material menghambat perjalanan. Rasa kesal karena buruknya jalan terobati dengan indahnya pemandangan di Jampang Tengah. Saya bisa menyaksikan perkebunan kopi di pinggir jalan. Juga melihat pekerja kebun teh memetik daun serta pekerja pria memikul jerigen berisi obat-obatan untuk membunuh rerumputan di bawah pohon teh. Jalanan tetap beerliku, serasa mengkuti reli. Si bontot sampai pusing. Si sulung yang biasa tegar, sempat protes melihat aksi ngebut di tikungan. “Di rem napa kalau belok,” ujarnya sewot.Habis magrib, saya keluar hotel untuk mencari makan. Menurut info karyawan hotel, sea food enak ada di restro Anugerah di ujung jalan. Saya mencoba mencari resto lain. Tak ada yang menggoda sehingga saya membelok ke Anugerah juga. Banyak menu yang tak ada karena saat itu ikan sedang susah. Akhirnya hanya pesan cumi goreng tepung plus cah kangkung. Rasanya sangat standar, malah lebih enak masakan istri saya. Udah gitu pakai lama pula masaknya.
19.30 sudah kembali ke hotel. Saya janji dengan ojek hotel untuk berangkat ke turtle park jam 20.00. Katanya jam 19.00 tadi sudah ada satu penyu yang membuat lubang untuk bertelor. Di perkirakan jam 21.00 penyu sudah bertelor. Saya harus naik ojek karena jalanan buruk. Tak bisa dilalui sedan. Ongkosnya Rp 40.000 untuk satu ojek. Saya khawatir si sulung, Dirga, mengantuk. Karena dia biasa tidur jam 09.00 malam. Si kecil, Inaya, lebih tahan melek. Kekhawatiran itu sirna. Keduanya masih bersemangat melihat penyu meski harus melewati kegelapan malam dengan jalanan yang aduhai.
Memasuki Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park) saya diminta mengisi buku tamu dan membayar biaya Rp 5.000 per orang. Setelah itu petugas mengeluarkan ember plastik hitam berisi anak penyu yang baru berumur sehari. Anak-anak penyu yang baru menetas sore hari itu akan dilepasliarkan besok sore. “Setiap jam 05.00 sore ada pelepasan penyu ke laut,” ujar petugas Turtle Park. Kemungkinan hidup anak penyu itu hanya dua persen. Sangat kecil sehingga layak dilindungi.Jam 21.15 bel berbunyi. Saya dan rombongan, sekitar 20 orang, masuk ke bibir pantai. Tak boleh menyalakan lampu, termasuk dari handphone. “Nanti mata bisa beradaptasi,” teriak guide. Benar, sesampai di pasir yang lembab dan dingin, mata saya bisa melihat mana jalanan dan mana tanaman. Sekitar 50 meter dari pintu masuk, seekor penyu berukuran panjang sekitar 1 meter dengan diameter 60 cm sedang bertelor di bawah pohon. Saya tak boleh menyalakan blitz ke arah laut. Pemotretan harus mengarah ke daratan agar cahaya tak kena laut. Penyu sangat sensitif. Bisa mlihat cahaya dari jarak 25 meter. Jika melihat cahaya, penyu yang mau bertelor ke daratan bisa balik lagi ke laut dan mengurungkan niatnya.
Seekor penyu bisa bertelor sekitar 100 butir. Masa bertelor dua bulan. Mereka akan balik ke lubang yang sama dalam 12 hari sehingga lubang tak mengalami perubahan. Telor sebesar bola pingpong itu dimasukkan ke dalam lubang buatannya, lalu ditutup setelah selesai bertelor. Untuk menutup lobang bisa membutuhkan waktu 1 jam sendiri. Penyu baru beranjak pergi setelah yakin kalau telor-telornya dalam kondisi aman. Setelah bertelor penyu akan menghilang selama dua tahun. Penyu yang saya lihat tadi, menurut guide dari Amanda Ratu Hotel, masih muda. Penyu baru berpacaran pada usia 40 tahun. Umurnya bisa mencapai 200 tahun. Jam 22.00 penyu belum juga berjalan ke arah pantai. Saya memutuskan untuk balik ke hotel, menyimpan tenaga untuk esok hari.
Senin, 5 Juli 2010
Jam 05.00 saya bangun. Cuci muka, gosok gigi lalu mengambil air wudhu. Pagi buta saya menuju ke tempat pelelangan ikan. Sepi.Belum ada kapal nelayan yang merapat. Setengah jam menunggu, masuklah beberapa kapal kecil. Nelayan menururnkan ikan hasil tangkapannya. Tak banyak karena sedang susah mendapatkan ikan. Kapal dengan empat nelayan hanya membawa pulang dua ikan pari dan satu ikan besar (entah apa namanya) serta beberapa ikan kecil. Sepertinya tak sebanding dengan ongkos produksi saat melaut. Ikan-ikan itu ditimbang ke juragan yang menampung hasil mereka. Di tempat pelelangan juga sepi. Saya tak jadi membeli ikan satu pun.Mobil menuju je arah Surade mencari sarapan. Tak ada restoran atau warung yang cocok. Di tengah jalan ada ibu-ibu penjual nasi uduk. “Masak kesini cuma makan nasi uduk,” ujar si kecil Inaya sambil sewot. Akhirnya hanya beli gorengan dan balik ke hotel. Mau pesan makan, sudah ilfil. Ujung-ujungnya hanya sarapan dengan roti tawar isi meses plus gorengan.
Jam 08.00 menuju ke pantai. Mencari ikan-ikan kecil di balik karang. Ingin membeli jaring kecil (saringan ikan) tak ada warung yang menjualnya. Saya membuat saringan dari gelas air mineral yang saya lubangi di pinggir dan bawah gelas. Berhasil. Dengan alat itu, saya berhasil menangkap dua ikan kecil, yang akhirnya dilepas lagi menjelang pulang. Setelah makan siang di hotel dengan menu cah kangkung lagi plus udang dan cumi, saya check out dari Pondok Hexa. Jam menunjukkan pukul 13.00. Add a comment Desember 28, 2010
Kaitkata: jalan jalan, liburan, pelabuhan ratu, talitha fainaya, ujung genteng






